Skip to main content

Newest Post

Are You A Corruptor?

Apakah lo seorang koruptor? Photo by  cottonbro  from  Pexels Dari pertanyaan di atas agaknya kita langsung berpikir, "Loh saya nggak pernah pake uang orang," atau "Saya nggak mungkin jadi seperti para tikus berdasi di luar sana," dan macam-macam pikiran bersamaan dengan keterkejutan lainnya. Eits, tunggu dulu. Gue akan bocorkan hint dari konteks penulisan gue hari ini. Gue tidak akan membahas politisi-politisi yang melakukan korupsi di luar sana karena sejujurnya gue juga nggak suka membahasnya.  Gue akan membahas korupsi-korupsi kecil yang mungkin nggak kita sadari sudah mendarah daging di sekitar kita. Hal yang perlu kita pahami kemudian adalah sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Korupsi kecil ternyata juga bisa berdampak besar. Korupsi, tapi Bukan Tentang Uang Kita hidup di negara yang penuh dengan peraturan, regulasi, norma, dan adat baik tertulis maupun tidak tertulis. Sudah seharusnya masyarakat Indonesia yang hidup di atas negeri ini mematuhi

Another Drizzle

Malam ini aku ditemani hujan rintik-rintik.
Hanya berdua saja, romantis sekali.
Ia mendendangkan alunannya dengan jatuh di atas genting rumahku.
Sudah dini hari, namun mataku belum juga bisa terpejam.
Seakan tidak mau aku tidur meninggalkannya.

Aku mengagumi rintik-rintik ini.
Mereka bukanlah hasil dari tangisan langit, tetapi cara langit membahagiakan bumi.
Bumi basah, menyelamatkan tanah yang haus dan karya Tuhan yang lainnya.
Mereka tegar sekali saat sering difitnah sebagai penyebab kehancuran di bumi.
Padahal, Tuhan sudah berbagi agar rintik dinikmati dengan sepuasnya.
Makhluk bumi rata-rata hanya memiliki satu pekerjaan penting: mencemari tempat ia berpijak.
Memang dasarnya mereka tidak tahu diri.

Aku juga selalu berusaha bersyukur saat rintik mengetuk.
Kubukakan pintu hati dan mataku agar menerima rintik apa adanya.
Bahkan sering kali aku ingin buka pintu dan melangkah keluar untuk menari dalam rintik ini.

Tapi, alunan kali ini berbeda.
Ada yang hilang, aku ragu itu apa.
Intensitasnya tidak terlalu deras.
Dia tidak membuatku takut.
Belum ada petir, itu bagus.
Melodinya juga tetap indah, seperti biasanya.
Memang, sedari tadi aku bertanya kepada diriku sendiri, apa ada yang sakit? Sampai-sampai rintik pun tidak bisa mengobatinya.
Lalu saat rintik-rintik ini berubah menjadi hujan yang begitu deras, aku baru dapat jawabannya.


Sumber : Dok. Pribadi


Belum ada dia di dekatku.
Jadi, malam ini aku belum utuh.
Beberapa malam.
Mungkin... Banyak malam.

Itu letak kesalahannya.
Mataku lelah terbuka karena dipaksa oleh hati, bukan ingin menemani rintik hujan.
Hati sedang mencari-cari sesuatu yang, entah, bahkan ia tidak tahu adanya.
Sesuatu yang selalu membuatnya bingung, yang kadang memaksa dia untuk merobek dirinya sendiri.
Nanti dia akan pulih, tapi pulih tidak akan pernah seperti semula.
Hati mungkin tidak akan pernah tau apakah kehadirannya cukup berarti atau tidak.
Dan selama itu, mata pun akan sangat sulit terpejam.
Hingga nanti rintik hujan jadi bingung, mengapa keindahannya masih terkalahkan oleh orang lain.

Xoxo

Comments

Other Posts