Skip to main content

Newest Post

Are You A Corruptor?

Apakah lo seorang koruptor? Photo by  cottonbro  from  Pexels Dari pertanyaan di atas agaknya kita langsung berpikir, "Loh saya nggak pernah pake uang orang," atau "Saya nggak mungkin jadi seperti para tikus berdasi di luar sana," dan macam-macam pikiran bersamaan dengan keterkejutan lainnya. Eits, tunggu dulu. Gue akan bocorkan hint dari konteks penulisan gue hari ini. Gue tidak akan membahas politisi-politisi yang melakukan korupsi di luar sana karena sejujurnya gue juga nggak suka membahasnya.  Gue akan membahas korupsi-korupsi kecil yang mungkin nggak kita sadari sudah mendarah daging di sekitar kita. Hal yang perlu kita pahami kemudian adalah sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Korupsi kecil ternyata juga bisa berdampak besar. Korupsi, tapi Bukan Tentang Uang Kita hidup di negara yang penuh dengan peraturan, regulasi, norma, dan adat baik tertulis maupun tidak tertulis. Sudah seharusnya masyarakat Indonesia yang hidup di atas negeri ini mematuhi

Minus to Plus

Hari ini gue dapet pelajaran. Lumayan besar dan krusial menurut gue, jika diterapkan di dunia kerja nanti. Nggak cuma kerja sih, dalam kegiatan sehari-hari juga cukup penting.

Jadi gue ingin menjelaskan objek utama dari pelajaran hari ini. Sebut saya Tuan (bukan berarti cowo), dia memiliki perawakan yang berbeda dengan manusia pada umumnya. Keras, tegas, berani berbeda dengan orang lain, kritis, dan idealis. Setiap kata yang terucap dari mulutnya pasti ada dasar dan alasannya. Kemauan mahasiswa seperti Tuan ini susah untuk dibantah dan ditolak, karena saat dia tau dia benar dan memiliki dasaran yang kuat, dia akan bertahan. Pilihan untuk dia nampaknya cuma dua, bertahan atau tidak sama sekali. Bahkan, dalam proses mempertahankan argumennya, dia nggak segan-segan untuk menjatuhkan orang-orang yang kontra sama dia. Tapi, yang terakhir itu subjektifnya gue aja sih hehe karena tadi emang gue lagi kebawa emosi.

Kenapa kebawa emosi? Oke, dia temen gue, gak perlu lah gue sebutin umur dan gendernya, atau seluk beluknya. Gue sudah mempelajari diri gue sendiri beberapa tahun ini, dan ya sedikit demi sedikit gue tau hasilnya, yang mana kontra abis deh sama perawakan si Tuan. Bukan berarti gue nggak pernah punya dasaran dan idealisme untuk hidup, bukan gitu. Mungkin nggak perlu dishare-share biar nggak dikira kepedean. Gue harus bekerjasama dengan dia, ya sebut aja, selama perkuliahan, which is masih lebih dari satu tahun lagi. Gue mikirnya dari dulu adalah gue gak cocok sama dia, cara berpendapat dan menyelesaikan masalah kita aja beda banget. Gimana mau kerjasama coba? Kalo gue inget-inget lagi dulu pas ada masalah sama dia, rasanya gedeg banget deh. Bahkan gue bisa-bisanya berharap biar dia lenyap aja dari hadapan gue saking kebawa emosinya.

Terus, setelah gue makan, pulang, bersih-bersih badan sebelum gue tidur, gue main hp dulu buat relieving gitu karena seharian udah nggak diberi ruang napas sama sekali lah istilahnya. I sought some happiness from social media and yeah, I found a little bit of it. Out of nowhere ada yang dateng ke otak gue mengetuk dan ngucapin salam. Gue diingatkan, kok sepertinya gue subjektif sekali hari itu ya. Seakan ketidakprofesionalitas-an bagian keemosian gue muncul tadi pagi sampe gue pulang ke kos. Gue akan menghadapi tugas-tugas, yang otomatis membawa gue ke si Tuan ini, tapi seakan-akan gue pilih-pilih untuk mengerjakan tugas gue dengan siapa. It means gue bisa aja membawa sifat itu up to my entire life, which means bisa jadi penghancur karir dan relasi gue di masa depan.

Gue jadi keinget, waktu itu dia pernah bantuin gue nemuin solusi permasalahan. Terus, gue inget juga dia pernah jadi alasan gue untuk membeli banyak buku tentang self development dan psychology sciences yang membuka mata gue tentang diri gue sendiri dan terhadap orang lain. Gue jadi tau sedikit demi sedikit cara ngehadepin orang kayak dia ataupun di luar itu karena masih saking keselnya sama dia dan pengen banget bisa ngehadepin dia. Di samping itu, dia netral dan bahkan belum tentu dia berpikiran gue buruk atau terlalu idealis seperti apa yang gue pikirkan tentang dia. Tuan ini juga ingin berkembang, ya masa gak gue bolehin buat berkembang bareng-bareng dan tuker pikiran?

Sumber : Dok. Pribadi


Yang gue pikirkan juga adalah, saat lo emosi, lelah, pikiran numpuk, dan nggak terkontrol, apapun yang baik yang sebenernya bisa kita terima pada saat itu, bisa aja mantul dan nggak balik lagi. Semakin negatif pikiran pada saat itu, semakin salah lah lo mengambil keputusan pada saat itu. Seperti kesubjektifan gue yang kalo dipikir-pikir nggak banget deh. Setelah gue relieve, gue baru bisa mikir jernih dan berjalan lagi. Kemudian gue lagi-lagi memposisikan diri gue kalo gue jadi si Tuan. Gue bisa aja beridealisme tinggi, bertentangan dengan orang, provokatif, dan lain-lain. Tapi gue juga butuh pembenahan biar idealisme gue itu nggak jauh-jauh dari tujuan bersama. Gue juga butuh teman yang mau terbuka sama gue tentang apapun yang salah di diri gue, dan mendukung gue selama gue benar. Sekeras-kerasnya hati orang, pasti masih ada celah yang bisa kita masuki untuk melunakkannya. Terus yaa gue keep on seeking his/her (gender dirahasiakan) plus plus biar gue tenang juga dan nggak kesel sama ni orang terus lah. Udah banyak dosa soalnya.

Coba kita berusaha untuk mulai menerima dia apa adanya. Terus cari cara untuk menghilangkan kelelahan-kelelahan diri kita sebanyak-banyaknya pake trial and error. Kita cari yang mana yang cocok buat kita dan setelah itu bisa kita terapkan terus selanjutnya.

I'm trying to heal the positive energy this time again, because live within negativity has tortured me very well.

Xoxo

Comments

Other Posts