Skip to main content

Newest Post

Are You A Corruptor?

Apakah lo seorang koruptor? Photo by  cottonbro  from  Pexels Dari pertanyaan di atas agaknya kita langsung berpikir, "Loh saya nggak pernah pake uang orang," atau "Saya nggak mungkin jadi seperti para tikus berdasi di luar sana," dan macam-macam pikiran bersamaan dengan keterkejutan lainnya. Eits, tunggu dulu. Gue akan bocorkan hint dari konteks penulisan gue hari ini. Gue tidak akan membahas politisi-politisi yang melakukan korupsi di luar sana karena sejujurnya gue juga nggak suka membahasnya.  Gue akan membahas korupsi-korupsi kecil yang mungkin nggak kita sadari sudah mendarah daging di sekitar kita. Hal yang perlu kita pahami kemudian adalah sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Korupsi kecil ternyata juga bisa berdampak besar. Korupsi, tapi Bukan Tentang Uang Kita hidup di negara yang penuh dengan peraturan, regulasi, norma, dan adat baik tertulis maupun tidak tertulis. Sudah seharusnya masyarakat Indonesia yang hidup di atas negeri ini mematuhi

Way to My Place

Sumber : Dok. Pribadi


Teringat dulu,
Saat umurku masih dikatakan bocah
Atau masih dipuji-puji sebagai anak cantik berambut panjang
Sebagai nona kecil yang mencuri segala perhatian
Berlimpah datangnya kepadaku, setiap aku memijakkan kedua kakiku keluar singgasana
Kukira dulu adalah hal yang membosankan, yang tiap harinya dipuji, namun hidup tetap terasa itu-itu saja

Masih ingat aku,
Selendang dari kain yang kugunakan untuk menari-nari di depan televisi
Bersama kedua kawanku berparas elok, berhati baik
Bersama mereka aku mulai nikmati hidup, tanpa memikirkan masa depan, tanpa ada cinta dengan luka
Tayangan putri di televisi membuat kami berpikir bahwa kehidupan itu penuh dengan lagu
Kemudian pangeran tampan akan membawamu ke istana dan hidup bahagia selamanya

Tapi, bahagia selamanya itu tidak pernah ada.

Jauh setelah kebosanan pada anak cantik berambut panjang
Dan tarian-tarian di depan televisi bersama kawan
Hidup baru menyadarkan anak cantik yang tumbuh menjadi sesosok gadis,
Yang mungkin, tidak lagi setiap harinya dipuji
Yang mungkin, tiap harinya tidak bisa menari-nari
Disibukkan oleh hal-hal duniawi
Cinta dan perasaan terhadap lelaki
Kemudian lupa akan pentingnya ibadah untuk kehidupan setelah mati
Dan orangtua yang suka ditinggal pergi

Bagaimana cara menyadarkan diri,
Bahwa berharap kepada manusia adalah hal yang paling sia-sia?
Manusia dasarnya tidak bisa membalas,
Hanya nuraninya saja yang kadang tergerakkan oleh-Nya

Bagaimana cara memberitahu diri,
Bahwa sesungguhnya apa yang kita berikan tidaklah harus selalu terbalaskan?
Darimana aku bisa belajar dengan rajin makna dan cara untuk ikhlas, sehingga nanti aku jadi pintar?
Ikhlas untuk melepas dan menerima,
Manusia tidak dikodratkan untuk selalu memiliki sifat tersebut

Jalanku dari tempat anak cantik ke tempat gadis yang suka menari tadi mungkin mudah
Tetapi hanya Dia-lah yang sekarang tau jalanku selanjutnya
Jalan menuju tempatku yang sesungguhnya

Xoxo

Comments

Other Posts