Skip to main content

Newest Post

Are You A Corruptor?

Apakah lo seorang koruptor? Photo by  cottonbro  from  Pexels Dari pertanyaan di atas agaknya kita langsung berpikir, "Loh saya nggak pernah pake uang orang," atau "Saya nggak mungkin jadi seperti para tikus berdasi di luar sana," dan macam-macam pikiran bersamaan dengan keterkejutan lainnya. Eits, tunggu dulu. Gue akan bocorkan hint dari konteks penulisan gue hari ini. Gue tidak akan membahas politisi-politisi yang melakukan korupsi di luar sana karena sejujurnya gue juga nggak suka membahasnya.  Gue akan membahas korupsi-korupsi kecil yang mungkin nggak kita sadari sudah mendarah daging di sekitar kita. Hal yang perlu kita pahami kemudian adalah sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Korupsi kecil ternyata juga bisa berdampak besar. Korupsi, tapi Bukan Tentang Uang Kita hidup di negara yang penuh dengan peraturan, regulasi, norma, dan adat baik tertulis maupun tidak tertulis. Sudah seharusnya masyarakat Indonesia yang hidup di atas negeri ini mematuhi

Do Not Littering

Jadi dulu pernah gue ketemu sama satu orang di suatu parkiran. Agak lupa sih dimana, yang jelas orangnya lagi di mobil dan gue juga di mobil. Terus waktu orang itu mau siap-siap untuk meninggalkan tempatnya (parkiran maksudnya), dia memegang beberapa sesuatu (?) yang gue gak tau itu apa. Then, dia membuka pintu mobil dan kemudian melemparkan sesuatu-sesuatunya ke tanah. Yang dia lempar cukup banyak. Otomatis orang-orang di mobilnya itu teriak:

"Heh jangan buang sampah sembarangan!"

Gue kira emang ngga ada tong sampah di sekitar situ, eh taunya ada. Gak jauh, tapi gak deket juga. Terus pas gue muter kepala gue buat nyari tong sampah yang terdekat tadi dimana, gue menemukan ada petugas lagi nyapu lingkungan parkir itu. Sedetik kemudian, pokoknya setelah ada yang ngingetin orang yang ngelempar sampah ke tanah ini, dia malah jawab dengan santainya:

"Ah gapapa. Biar tukangnya kerja."

And I was...

Man, entahlah. Gue tau banyak banget dari kita yang masih sering denger orang kayak gini. Bahkan, nggak jarang dari kita yang masih berpikiran kayak gitu. Dia selain nggak bisa jaga attitude nya ke alam, dia juga kayak melecehkan si petugas yang bersih-bersih ini. Yaampun, emang dengan dia membuang sampah sendiri dia akan ngambil pekerjaan si petugas? Petugas bersih-bersih nggak cuma membersihkan apa yang ada di tanah, tapi dia bekerja juga membersihkan tong sampah, membuang sampahnya ke tempat penampungan sampah, belum lagi kalo si bos nya nyuruh dia untuk sekalian beresin tanaman dan ngebersihin sampah-sampah tanaman lainnya.

Sumber : Dok. Pribadi


Yang gue mau tekankan disini adalah gimana sih cara nge-treat orang-orang yang bekerja untuk kita, khususnya orang-orang yang tingkat pekerjaannya nggak tinggi-tinggi amat dan gajinya juga nggak seberapa. Bayangin, gaji udah ngga seberapa. Hidupnya pas-pasan, eh mau ditambah lagi sama sikap kita yang nggak tau diri mau nambahin penderitaan mereka?

As a human, hendaknya kita selalu bisa memposisikan diri kita seperti orang lain, memandang seseorang dari banyak perspektif, bahkan kalo bisa sampe beribu perspektif, supaya kita bisa beribu kali berpikir jika mau ngejatuhin atau ngejelekin orang itu. Mungkin perspektif orang yang tadi ngelempar sampah itu kayak gini: kalo semua orang buang sampah di tempatnya, petugas nggak akan repot-repot nyapu parkiran karena gaada sampah, terus dia makan gaji buta jadinya.

Kalo aja dia mikir dua kali sebelum bertindak. Jika dia jalan sedikit aja ke tong sampah buat buang sampahnya, pertama, yang paling semua orang mau, yaitu dia dapet pahala dari tuhannya, karena gue yakin semua agama mengajarkan kebersihan, seperti yang sering kita dengar dari jaman masih bocah: "Kebersihan adalah sebagian dari iman". Gue juga gatau sih itu muncul dari mana kalimatnya, tapi di agama Islam emang diajarkan kok.

Kedua, dia akan meringankan pekerjaan pak petugas. Siapa yang tau kalo pak petugas ini nggak bisa kerja terlalu berat? Atau dia punya pekerjaan lain juga demi menafkahi keluarganya? Terus, kalo udah niat buat ngebantu ngeringanin beban si bapak petugas, toh kan dapet pahala lagi! Enaknya dobel-dobel.

Ketiga, kalo misalkan ada orang lain yang nggak dia kenal yang suka buang sampah sembarangan, terus ngeliat dia membuang sampah ke tempatnya, eh terketuk tuh pintu hatinya buat berubah. Yaampun, bisa jadi inspirator bangsa abis deh.

Keempat, coba aja dia mikir gini: "Kalo semua orang ngelempar sampah ke tanah kayak gue gini, parkiran ini isinya sampah semua. Gak cuma parkiran ini malah. Terus akhirnya banjir, gue juga ikutan kebanjiran." Nah! At least, dia nggak nambah-nambahin sampah yang udah banyak gitu. Kan, semua dimulai dari diri sendiri, dan dengan hal sekecil apapun.

Masih banyak lagi perspektif positif yang bisa kita bentuk di dalam pikiran kita, supaya kita nggak ngerugiin orang lain. Bisa aja lo mikir dengan lo lari bentar ke tong sampah lo melepas sekian kalori. Terus, bisa juga biar biaya buat beli tong sampahnya nggak sia-sia karena ada sampah di dalemnya kan, wkwk. Gue pribadi suka mikir gini sih, gue nggak mau nanti protes sama pemerintah gara-gara banjir, tapi gue sendiri yang membuat banjir itu terjadi. Like kinda big bullshit. Gue bukan orang bermuka dua! Gue berusaha untuk nggak ngejilat ludah gue sendiri. Terus gue suka liat binatang-binatang yang cedera gara-gara sampah, gila aja, kasian cuy. Gue ngebayangin kucing gue yang kayak gitu:(

So, come on, let's be a positive person from now:)

Xoxo


Comments

Other Posts