Skip to main content

Newest Post

Are You A Corruptor?

Apakah lo seorang koruptor? Photo by  cottonbro  from  Pexels Dari pertanyaan di atas agaknya kita langsung berpikir, "Loh saya nggak pernah pake uang orang," atau "Saya nggak mungkin jadi seperti para tikus berdasi di luar sana," dan macam-macam pikiran bersamaan dengan keterkejutan lainnya. Eits, tunggu dulu. Gue akan bocorkan hint dari konteks penulisan gue hari ini. Gue tidak akan membahas politisi-politisi yang melakukan korupsi di luar sana karena sejujurnya gue juga nggak suka membahasnya.  Gue akan membahas korupsi-korupsi kecil yang mungkin nggak kita sadari sudah mendarah daging di sekitar kita. Hal yang perlu kita pahami kemudian adalah sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Korupsi kecil ternyata juga bisa berdampak besar. Korupsi, tapi Bukan Tentang Uang Kita hidup di negara yang penuh dengan peraturan, regulasi, norma, dan adat baik tertulis maupun tidak tertulis. Sudah seharusnya masyarakat Indonesia yang hidup di atas negeri ini mematuhi

Unpleasant Moments at Public Transportation

Setiap berangkat ke kantor sebelum pandemi Covid-19 datang, pun saat gue pulang ke rumah dari kantor, gue selalu mengandalkan transportasi umum. Kereta Rel Listrik (KRL) dan bus Transjabodetabek menjadi moda transportasi umum favorit gue. 

Gue memilih untuk menggunakan transportasi umum karena alasan jarak kantor yang cukup jauh dari rumah, sehingga kalau tetap dipaksakan menggunakan kendaraan pribadi, kantong gue bisa bolong dan tidak ada uang yang tersisa saat pertengahan bulan karena habis di pos transportasi.

Bagi anak kereta (sebutan untuk pengguna KRL garis keras), banyak trik-trik khusus untuk dapat spot yang nyaman walaupun keadaan KRL sedang penuh-penuhnya. Begitu juga dengan pengguna Transjabodetabek, mereka sudah punya strategi agar mereka dapat tempat duduk atau at least berdiri di spot yang nyaman.

Lucu ketika gue mendengar kisah-kisah unik dari teman-teman anak kereta atau pengguna Transjabodetabek. Ada yang suka memilih berdiri di sebelah tiang dekat pintu agar bisa bersandar, ada juga yang memilihnya karena urusan privasi, lebih mudah keluar, dan lain-lain. Begitu juga dengan Transjabodetabek, ada yang punya strategi untuk naik di halte paling awal agar dapat tempat duduk, atau menunggu lebih lama agar dapat bus yang tarifnya lebih murah.

Photo by Arif Syuhada from Pexels

Duh, jadi kangen naik KRL atau Transjabodetabek.

Ngomong-ngomong tentang dua moda ini, gue punya lumayan banyak pengalaman saat jam-jam rawan naik keduanya (at least untuk gue pribadi). 

Pengalaman Tidak Menyenangkan di KRL dan Transjabodetabek

Lho, kok nggak menyenangkan?

Yap, gue ingin bercerita tentang pengalaman melihat peristiwa nggak menyenangkan saat naik moda favorit gue tadi. 

Jam rawan yang gue maksud adalah ketika gue berangkat ke kantor dari Bekasi ke Jakarta jam 6.00 WIB dan pulang ke rumah dari Jakarta ke Bekasi sekitar jam 17.30 s.d. 19.00 WIB. Di jam-jam ini, rata-rata orang yang pulang dari kantor mulai nekat dalam berjuang untuk pulang ke rumah menggunakan dua moda tadi.

Ada beberapa pengalaman tidak menyenangkan yang terus berulang sehingga menumbuhkan concern berlebih dari gue. Tapi sayangnya, sampai sekarang gue pun nggak tau bagaimana cara menguranginya. Inilah beberapa pengalaman nggak menyenangkan saat menggunakan KRL dan Transjabodetabek di jam-jam rawan.

Photo by Vherlyana Febritasari from Pexels

1. Saat Priority Seat bukan untuk Orang-orang Prioritas

Kita semua tahu bahwa di Indonesia, mayoritas dari transportasi umum sudah menyediakan tempat duduk bagi orang-orang yang diprioritaskan untuk duduk, seperti ibu hamil, ibu yang membawa bayi dan balita, lansia, dan penyandang disabilitas. 

Bahkan, sekarang ibu hamil sudah dapat menggunakan atribut yang membedakan dirinya dengan yang lain jika ia adalah pengguna KRL. Namun sedihnya, di banyak kesempatan, masih ada kursi-kursi prioritas yang terisi penuh oleh orang-orang yang bukan termasuk golongan prioritas, sehingga mempersulit orang-orang prioritas untuk duduk. Sedihnya lagi, banyak yang seakan tidak peduli ketika petugas KRL meminta tolong untuk menyediakan tempat duduk untuk golongan prioritas.

Photo by Matthias Zomer from Pexels

Tapi sampai sekarang, gue belum pernah melihat ada penyandang disabilitas yang nggak langsung dikasih tempat duduk sama penumpang lain. Pernah gue berjumpa dengan bapak-bapak yang buta, namun untungnya saat itu penumpang sangat suportif, bahkan sampai ada yang membimbingnya ke pintu keluar stasiun setelah turun dari KRL.

2. Melihat Pregnant Woman atau Elderly Terpaksa Berdiri

Gue pernah mengalami saat Priority Seat penuh diduduki oleh orang-orang yang memang benar perlu diprioritaskan untuk duduk. Ada beberapa ibu hamil dan juga lansia yang duduk disana. Di tengah-tengah perjalanan, ada ibu hamil yang masuk dan kemudian kebingungan harus duduk dimana.

Jika mengikuti peraturan, seharusnya ada penumpang yang duduk di tempat reguler mempersilakan ibu ini untuk duduk walaupun tidak berada di Priority Seat. Namun sedihnya, seperti yang gue katakan di poin satu lagi, tidak ada yang menggubris permintaan ibu hamil untuk duduk.

Photo by Dark Indigo from Pexels

Entah menjadi keuntungan atau kekurangan, di Indonesia, masih banyak orang yang nggak enakan. Si ibu hamil yang baru datang ini akhirnya berkata, "Nggak apa-apa, tujuan saya dekat kok," dan gue yang mendengarnya kemudian terbelalak. 

Sebagai informasi, isi KRL atau Transjabodetabek ke arah Bekasi pada jam rawan itu sangat padat. Bekasi sebagai kota yang 'nyerempet' Jakarta, yang juga digandrungi oleh budak-budak korporat sebagai tempat tinggal menjadi alasan moda-moda tersebut sangat padat di jam rawan. 

Akhirnya, setelah cukup lama berdiri, si ibu hamil tadi ditawarkan tempat duduk oleh petugas KRL yang harus bersusah payah melewati lautan manusia dulu untuk menjemputnya. 

Peristiwa yang sama juga pernah terjadi kepada beberapa elderly yang gue temukan di KRL maupun Transjabodetabek. Ada yang terpaksa berdiri, padahal gue tau banyak anak muda yang duduk dan masih bisa berdiri tegap, tidak menggubris kedatangannya dan fokus kepada HP nya.

3. "Loh, saya kan wanita, jadi saya yang duduk Pak!"

Sebelumnya, gue ingin mengingatkan dulu bahwa nggak semua perempuan seperti ini.

Gue pernah menjumpai peristiwa dimana ada perempuan yang memaksa seorang laki-laki untuk berdiri dan memberikan tempat duduknya kepada si perempuan, padahal si perempuan tidak sakit ataupun hamil. Sedihnya lagi, ia meminta dengan memaksa, yang mana menunjukkan ketidaksopanannya.

Photo by João Jesus from Pexels

Hal ini sudah menjadi concern gue sejak lama juga. Apakah sebenarnya gender boleh dijadikan alasan untuk berbuat seenaknya sesuai dengan stereotype yang ada? Bukankah si laki-laki juga memiliki hak yang sama dalam menggunakan transportasi umum?

Yang bisa gue katakan setelah menceritakan ini adalah, jangan lihat gender-nya, tapi orangnya. Benar memang di agama gue, wanita harus dimuliakan. Tapi selayaknya yang dimuliakan juga perlu memuliakan orang lain agar dirinya menjadi pantas dimuliakan #ribet. Statement ini nggak perlu kita jadikan senjata untuk berbuat tidak adil terhadap sesama.

4. Tidak Mengantre

Gue yakin sih, kalau masalah mengantre itu terjadi nggak cuma di transportasi umum aja. Tapi kalau di KRL, biasanya yang rebutan antre itu saat di loket tiket dan pintu KRL. Pernah liat kan, orang berdesak-desakan masuk KRL dengan paksa? Pemandangan itu lah yang gue temukan jika pulang ke Bekasi.

Melihat dari keterbatasan jumlah KRL yang beroperasi ke arah Bekasi (bahkan sekarang ditambah ke Cikarang), gue mewajarkan berdesak-desakan itu terjadi. Namun kalau memaksakan diri masuk atau mendorong-dorong orang lain sehingga membahayakan banyak orang, seharusnya itu bisa jadi perhatian dari penumpang dan manajemen KRL.

Photo by Juan Pablo Serrano Arenas from Pexels

Yang suka bikin elus-elus dada lainnya adalah ketika mau keluar KRL. Orang-orang di belakang gue biasanya suka nggak sabaran, sehingga ketika gue menunggu penumpang di depan gue untuk turun, gue tergencet dari belakang. Yah, udah kayak pepes beneran deh.

Pun di Transjabodetabek. Kita pasti paham bahwa tangga untuk turun di setiap bus itu lumayan tinggi, jadi kita perlu berhati-hati saat menapakinya. Tapi sayang, ada aja yang nggak sabaran dan membuat bahaya nyawa orang lain.

5. Mengeluarkan Suara yang Mengganggu

Peristiwa ini sering banget gue temukan baik di KRL maupun Transjabodetabek. Kadang ada yang dengerin lagu atau nonton film nggak pake headset, ngobrol sama teman dan ketawa-tawa kencang, dan menelpon dengan suara keras.

Benar sih transportasi umum, tapi istilah 'umum' kan bukan hanya untuk satu orang saja. Banyak orang lain yang mungkin sangat berbeda dari kita juga menggunakan fasilitas itu. Kadang, gue yang udah keliyengan mau cepet-cepet sampai pun makin pusing. Udah berdesakan, tiba-tiba ada suara yang asing dan keras yang makin membuat nggak nyaman.

Untuk ngobrol sama teman, gue yakin nggak akan jadi masalah jika suaranya tidak terlalu keras. Jangan sampai kita berbincang-bincang sama teman kita yang sudah berjarak satu sampai dua orang di depan atau di samping kita. Kalau jaraknya makin jauh, kan, perlu suara yang lebih keras juga untuk berbicara. Wah, itu akan mengganggu penumpang lain sih.

Photo by Burst from Pexels

Hal-hal yang Bisa Kita Lakukan untuk Menghindarinya

Di benak gue, seharusnya kita sebagai makhluk sosial bisa menempatkan diri dengan baik jika berada di ruang sosial. Sekali-kali kita bisa memposisikan diri menjadi si lansia, ibu hamil, ibu yang bawa bayi dan balita, atau penyandang disabilitas. Kita pasti nggak mau merasakan hal yang sempat gue sebutkan di atas tadi. Penting juga mengingat ibu yang sedang hamil, untuk mengandung saja mereka sudah mempertaruhkan nyawanya, maka dari itu kita sebagai makhluk yang cerdas perlu membantunya.

Baca Juga : When It Comes Back to You

Dalam menulis ini, gue pun sadar gue jauh dari kesempurnaan. Gue pernah duduk dan tidur di depan lansia yang berdiri dan baru sadar ketika sudah sampai. Gue juga pernah curi-curi waktu untuk duduk di bangku prioritas, walau saat itu memang sedang sepi dan tidak ada penumpang yang berdiri lagi.

Photo by Fariz Priandana from Pexels

Mungkin setelah ini juga ada yang bilang bahwa pengalaman-pengalaman gue di atas bisa terjadi kapan pun dan nggak terpaut sama jam-jam rawan aja, yang mana sangat benar. Peristiwa-peristiwa itu juga banyak gue temukan saat KRL dan Transjabodetabek nggak sepadat di jam rawan.

Gue paham banget sih, rasa lelahnya pulang kantor dan kantuknya saat berangkat kerja. Bawaannya mau duduk aja dan tidak peduli dengan sekeliling. Tapi yah, hidup ini nggak bisa lepas dari etika bermasyarakat. Ada yang perlu kita taati dan patuhi.

Memang lagi-lagi tentang etika. Semua agama pasti mengajarkan umatnya untuk berbuat baik dan memiliki adab yang baik juga. Tapi kadang, ada saja celah untuk melakukan aktivitas yang merugikan. Akhirnya, semua balik ke diri kita masing-masing, mau masuk ke celah itu, atau bertahan menjadi manusia yang baik dan benar.

Baca Juga : Do Not Littering

Manusia yang baik dan benar pun seyogyanya menebar kebaikan dan saling mengingatkan sesama untuk berbuat baik dan benar.

Kalau kalian, pernah mengalami kejadian yang sama nggak sih sama gue? Atau punya pengalaman nggak enak lainnya sama transportasi umum?

Comments

  1. Wooohoooo.... ada an-ker (anak kereta) juga rupanya yah Jalur Bekasi-Jakarta? Mangstab deh.

    Soal kursi prioritas memang masih menjadi masalah sampai sekarang karena empati yang masih kurang. Dan, itu terjadi juga di jalur yang saya pakai, Bogor - Gondangdia.

    Cuma, saya biasanya membiasakan diri kalau melihat ada kejadian seperti itu untuk tidak berdiam diri. Saya tidak menunggu petugas dan biasanya saya yang colek penumpang manapun untuk memberi tempat duduk kepada yang memerlukan.

    Kalau terlalu jauh dari tempat berdiri dan ada penumpang yang ngeyel, biasanya kalau perlu saya teriakin. Kalau ibu hamil yang butuh dan penumpang ngeyel, saya teriakin, "Woii lahir dari batu yah". Biasanya setelah itu akan dibantu penumpang yang lain untuk mendorong yang duduk bangun dan memberikan tempat duduk.

    Memang banyak yang "takut", tapi saya pikir kalau penumpang yang lain diam saja, kesadaran tidak akan terbentuk. Selama ini biasanya lumayan berhasil dan dari 10 kasus, setidaknya 8 akan bangun dan mempersilakan, walau kadang sambil menggerutu.

    Saya sih cuek saja. Hahahahahaha.. yang penting yang berhak dan memerlukan bisa duduk.

    Nice story Alfiya.. dan #toss dari sesama an-ker...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mantap, Kak Anton ngeri banget hahahaha.
      Aku belum pernah lihat yang berani bertindak seperti Kak Anton selama ini saat aku naik kereta. Dan aku salut sama Kakak euyyy!

      Delete
    2. @Mas Anton : hahaha halo sesama anker! Iya nih mas, soalnya KRL to the rescue banget kalo pagi hari.

      Benar ya ternyata kalau problem itu banyak terjadi nggak cuma di KRL jurusan yang aku naiki. Sebenernya aku juga suka teriak sih "Eh ada yang hamil nih kasih duduk dong" atau "Mbak mas tolong dong ada yang butuh duduk". Tapi emang cuma sebatas itu karena kondisiku juga udah capek berdiri hahaha. Kalau nggak digubris, yaudah nyerah🤣

      Yang Mas Anton lakukan itu keren. Kadang kita emang harus masang muka tembok dan bodo amat deh kalau masalah kebenaran ya. Aku juga lagi berusaha sih terus menegur yang salah. Toss mas!

      @Lia : hahaha iya ngeri banget ya Li, kalau aku sering sih liat yang kayak gitu bahkan ada sampe langsung nunjuk orang buat berdiri sampe orangnya cemberut kesal 🤣

      Delete
    3. 🤣🤣🤣 maklum saya mah gatelan liat yang kayak gitu.

      Kalau dilihat KRL masa kini memanf terasa ada sesuatu yang hilang.

      Dulu di masa KRL masih ga punya pintu dan jendela dan tempat duduk masih kayu, empati pengguna sedikit lebih baik.

      Bukan hanya pada orang hamil, tapi bahkan sesama pengguna sering berbagi tempat duduk. Mereka kerap gantian duduk..dihitung berdasarkan stasiun..😁

      Delete
  2. Kalau aku ketika harus berpergian naik kereta, aku sangat amat menjauhi kursi prioritas karena aku tahu itu untuk orang yang lebih membutuhkan dan kalau mau duduk di kursi prioritas, harus mau diganggu atau diusir 🤭
    Jadi kalau berpergian di jam-jam kritis, biasanya aku memilih naik ke arah stasiun sebelumnya supaya dapat tempat duduk atau kalau kereta kosong, aku pilih duduknya di tengah. Kalau memang udah duduk di tengah dan masih ada yang butuh bangku, aku akan kasih duduk ke orang yang lebih butuh.
    Anyway, kalau lagi jam pulang kerja, penumpang kereta tuh sadis banget ya. Aku pernah 1x naik kereta saat jam kritis, dari yang awalnya masih bisa berdiri secara napak, lama-lama jadi nggak bisa napak lagi karena saking penuhnya. Asli, nggak napak, aku bisa berdiri karena digencet kiri-kanan aja 🤣🤣🤣🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau aku nggak menjauhi juga sih, tapi berusaha nggak duduk disana. Aku suka milih posisi berdiri di depan orang-orang prioritas ini, karena 'less' kegencet dibandingkan di tengah-tengah 🤣

      Ide kamu bagus juga Li, temanku banyak yang melakukan hal yang sama. Tapi kalau buat aku emang masih merasa rada effort aja kalau pergi ke stasiun sebelumnya, soalnya aku ngejar murahnya juga🙈😛 kalau harus pindah stasiun kan nambah ongkos lagi hahahahah

      Sangaaat sadis Li, udah ngga mikir apapun yang penting pulang. Di stasiun transit, aku masih bertahan nunggu kereta selanjutnya. Tapi adaaa aja yang maksain diri masuk padahal itu yang di dalem aja udah nggak bisa napas mungkin wkwk. Samaaa! Bahkan pernah nengok pun aku gabisa Li, tangan sama kaki udah merenggang ke kanan dan kiri🤣

      Delete
    2. Itu namanya jurus bango Lia n Fiya..satu kaki yang napak..satu ngegantung 🤣🤣

      Baru tau Lua juga anker...

      Enjoy the ride yah..😉

      Delete
    3. @Kak Jez: benar juga! Kapan-kapan boleh dicoba tuh berdiri di depan kursi prioritas 🤣

      Sekarang memang nggak bisa langsung nyebrang tanpa harus tap kartu ya, Kak? 🤔. Udah cukup lama juga aku nggak naik kereta. Terakhir masih bisa nyebrang dan naik kereta ke stasiun sebelumnya tanpa harus tap kartu, jadi nggak kena biaya.

      Nggak bisa nengok itu lebih seram! Astaga 🤣. Horor banget memang kalau naik kereta saat jam kritis.

      @Kak Anton: ini namanya jurus bangau terbang karena aku bahkan nggak napak sama sekali saat itu, Kak 🤣

      Anker saat masa-masa kuliah 🤣. Kalau sekarang sesekali aja. Barangkali suatu saat, kita bisa bertemu di kereta jurusan Jakarta-Bogor ya Kak 🤪 tapi aku kabur sih kalau ketemu Kak Anton, takut dijitakin 🤪

      Delete
    4. Bener tuh jurus bangau terbang 🤣🤣..mayan kaki ga pegel jadinya Lia..

      Nggak akan dijitak kok Li..Malah nanti aku bantu dapetin kursi prioritas kok..Aku akan tereak.."Wooii kasih kursi nih ada anak kecil"

      Delete
    5. Mayan kaki jadi nggak pegel, badan juga bisa semakin singset karena digencet. 10rb jam naik kereta di saat kritis, mungkin aku bisa jadi ahli terbang dan super singset 👍🏻

      HAHAHAHA terima kasih lho, Kak Anton. Terharu lho aku atas niatnya 🤣. Ya nanti kita ujung-ujungnya akan duduk bersebelahan di kursi prioritas, kayaknya sih 🤪

      Delete
    6. @Lia : masih bisa pindah kereta tanpa kartu kok Li, namun yang berubah adalah ada tambahan harga kalau stasiun tujuannya tidak sesuai sama pas kita beli tiket di awal. Apa itu udah dari dulu ya?🤣

      Parah Li, udah terbang terus ngga bisa nengok gimana coba😂

      @Mas Anton : baiknya kalian duduk berduaan deh... 🤣

      Delete
  3. Masyarakat indonesia ni kurang banget mindful of othersnya mba. Sediih kadang, aku juga pengguna jasa kereta 15 tahun lalu di depok. fullnya setiap pagi, mau masuk juga butuh perjuangan. dulu masih muda, masih kuat bersaing, sekarang sepertinya sudah give up duluan kalau melihat ramai nya penumpang😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhu sayangnya masih banyak yang begitu demi kepentingan pribadi ya Mbak. 15 tahun yang lalu sudah ramai banget juga ya Mbak? Tapi feelingku, karena tiap tahun jumlah penduduk bertambah, pasti KRL sudah semakin padat dibandingkan dulu saat Mbak masih menggunakannya ya.

      Selagi masih ada transportasi umum lain yang nyaman, boleh lah jadi pertimbangan untuk nggak naik KRL Mbak😊

      Delete
  4. Karena aku bukan anker daerah Jabodetabek, jadi untuk skrg gak bisa relate. Tapiiii, dulu waktu masih kecil aku sering banget kan diajak main ke rumah saudara-saudaraku di Jakarta, dalam setahun ada kali lebih dari 4 kali bolak balik, dan biasanya memang naik transportasi umum alias kereta. Ngerasain banget gimana lika liku kehidupan anak kereta yang hampir selalu kegencet itu😂 aku sampe bener2 dicengkeram setiap kali masuk dan keluar KRL, karena saking padetnya yaa hadeuh. Gak kebayang lepas dikit aja bakal gimana, soalnya masih kecil banget dulu. Kirain aku kehidupan perkeretaan gak sebarbar dulu, tapi kedengerannya masih sama aja ya🤣

    *sama aja kurang bisa empati orang-orangnya😒

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awl, aku aja yang suka lihat anak kecil digandeng saat jam-jam rawan itu suka meringis sendiri. Gimana kamu ya yang sempat merasakan.. Kasihan anak-anak itu, ada yang kepanasan dan mengeluh ketakutan. Syukur-syukur ada yang langsung mau kasih tempat duduknya. Seringnya sih, harus nangis dulu anaknya baru dikasih tempat duduk🙈

      Hehe aku nggak bisa bandingin sih, soalnya baru-baru aja juga merasakan kegilaan naik transportasi umum di jam-jam rawan. Tapi kalau cerita kita berdua dibandingkan, kayaknya sama aja🤣

      Delete
  5. Salam anker...wkwkwkkwk
    kalau sedang berada di jabodetabek, aku juga terbiasa menggunakan KRL. Dan jalur terakhirku juga jurusan Jakarta kota-Bekasi. Ketika jam kritis dan aku tidak terburu-buru, biasanya aku nungguin sampai kereta agak longgar. Yaa meskipun bakal lama, tapi setidaknya tidak terlalu penuh. Tapi dari jalur yang ada, jalur Tanah Abang-Bogor itu yang paling sadis. Penumpangnya sangat banyak, tapi krl yang disediakan sedikit, jeda waktu terlalu lama dibandingkan dengan jurusan lainnya. Selain itu, jumlah gerbong hanya 8 gerbong. Sehingga banyak penumpang yang tidak terangkut kereta karena saking penuhnya. Belum lagi kalau pagi hari di stasiun tanah abang itu seperti medan pertempuran karena saking banyaknya pengguna kereta yang berdesak-desakan.
    Sekarang stasiun bekasi lagi direnovasi, semoga semakin nyaman untuk para anker :D


    Pura-pura tidur adalah cara penumpang agar tidak memberikan kursi (prioritas) kepada penumpang yang lebih membutuhkan. seringkali melihat penumpang yang seperti ini...hahahhaha
    Masih banyak anker yang dengan senang hati memberikan kursinya untuk orang yang membutuhkan. Bahkan ketika penumpang itu baru masuk ke kereta. Kursi prioritas boleh ditempati jika krl memang dalam keadaan kosong. jika sedang penuh, yaa sebaiknya diberikan kepada orang yang membutuhkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam anker! Wah ternyata ada pejuang Bekasi-Jakarta juga yaaa. Kadang aku nggak sabar sih kalau belum sampai di stasiun transit (st. Manggarai), jadi aku tebas aja gitu awalnya. Nanti sampai di stasiun transit, terserah deeh mau nunggu berapa lama, yang penting sampai Bekasi🤣

      Kalau dengar ini, rasanya mau kasih kritik dan saran aja gitu ya ke manajemen perusahaan terkait, supaya ada improvement dan nggak membahayakan penggunanya. Aku aja yang merasakan Bekasi-Jakarta udah begitu, gimana yang Tanah Abang-Bogor ini yaaa... nggak bisa bayangin. Aamiin, aku nunggu banget nih untuk hasil renovasi stasiun Bekasi, secara orang yang ke Cikarang pun sekarang lewatnya dari sana juga.

      Iya Mas, tapi semoga kita nggak termasuk orang kayak gitu dan ditumbuhkan keberanian untuk menegur orang-orang yang masih kurang perhatian terhadap sekitarnya😊

      Delete
  6. pernah beberapa kali menikmati krl jabodetabek. Agak ngeri-ngeri sedap sih persaingan tempat duduk itu kerasa banget yaa. dulu sempat saya melototin bapaknya yang nggak mau pindh padahal ada ibu yang sedang menggendong anak, dia mengalihkan mulu. nggak berani ngomong kayak mas anton sih, takut dilabrak saya,, hoho

    tapi emang kesadaran ini harus mulai dipupuk dan dibiasakan yaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget Mbak, ngeri-ngeri sangat sedaaapp🙈

      Yang Mbak Ghina lakukan itu sudah cukup berani Mbak! Kebanyakan orang sudah nggak peduli walaupun mereka juga berdiri, karena mungkin merasa "aku aja nggak duduk, masa ngerelain orang duduk" 🤣 Kalau Mas Anton udah lebih expert lagi Mbak hahaha

      Betul bangeeet, semoga bisa terus melatih kesadaran ini yaa dan mengingatkan orang lain untuk berbuat benar

      Delete
    2. Betul Fiya..apa yang dikau and mbak Ghina lakukan sudah sesuatu yang bagus.. Setidaknya berusaha merubah dengan kemampuan masing masing..

      Hahaha kalau saya karena sudah beruban posisinya lebih baik karena dipandang sebagai orang tua.

      Soal expert mah..hahahaha 29 tahun naik krl..nggak lulus lulus dari kereta..nggak bisa jadi expert 🤣🤣

      Delete
  7. aku bacanya sambil ngebayangin perjuangannya lumayan ya untuk brgkat dan pulang kerja. Aku ga pernah ngalamin jd anker soalnya. Semangaatt !!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi boleh cobain sekali-kali Mbak kalau penasaran🤣 dan sepertinya nggak akan ketagihan🙂

      Makasih yaa Mbak

      Delete
  8. Pernah ngalamin mungkin 10 th lalu. Beneran aq syok bgt pertama kali naik KRL sama trans jabodetabek. Ngga nyangka gitu ada "keganasan" semacam itu 😅
    Ini salah satu yg bikin aq belum tertarik tinggal di daerah ibukota, pdhl suami kerjanya disana 🤭
    Semangat mba !!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh Mbak dibandingkan sama KRL di waktu-waktu dekat ini, pasti sudah sangat berbeda🙈

      Iya Mbak, lagi pula tinggal di daerah ibukota sudah sangat mahal biaya hidupnya. Banyak orang yang memang memilih kota-kota di luar Jakarta tapi masih mepet kesana karena memang juga kerja di ibukota🤣

      Semangat yaa Mbak dan suami untuk menerjang jarak antara rumah dan kantor!

      Delete
  9. Waaaah ribet juga mba Jez, banyak suka dukanya yaah 😍

    Saya kayaknya naik kereta di Jakarta itu hanya satu atau dua kali, jaman duluuuuu banget. Jadi lupa lupa ingat bagaimana rasanya. Namun ketika itu, saya pergi sama teman-teman ke Dufan hahahaha. Untungnya nggak padat orang, mba 😂

    Pengalaman naik kereta padat justru baru saya rasakan di Bangkok, Thailand. Saat biztrip sebulan, saya sesekali naik BTS (mirip MRT / kereta). Dan biasanya saya baru mau naik kalau sudah nggak begitu padat. Alhasil saya rela menunggu sejaman hahahaha *terus besoknya menyesal dan pilih naik Grab car* 😂

    Saya nggak jago nyelip mba, takut banget didorong dorong nanti kejengkang. Mana saya mini badannya, jadi kalau naik kereta harus pegangan ke tiang atau pintu, nggak bisa pegangan ke cantolan di atas. Sampai sih sampai tangannya, tapi nggak nyaman karena terlalu ketarik hahahahaha *jadi curhat* 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi iya Kak, pasti anak kereta atau pengguna Transjabodetabek juga merasakan suka dukanya

      Pengalaman nggak enaknya malah terjadi di negeri orang ya Kak😔 betul banget, kalau keretanya sudah penuh dan desak-desakan lebih baik nunggu lebih lama lagi. Sayangnya, aku nggak pernah kapok naik kereta Kak walaupun penuh🤣

      Eh aku juga lho Kak, aku nggak pernah pegangan di cantolan yang atas. Ketarik banget soalnya😂 nah tapi kalau rame, aku suka nggak napak, persis sama kayak apa yang Lia bilang di komen🤣🤣🤣

      Delete
  10. Oh mbak alfiya anak anker juga ya. Memang lebih enak naik kereta karena jika pakai kendaraan pribadi bisa boros biaya ya mbak.

    Tapi resiko naik kereta ya memang berdesakan apalagi jika jam rawan berangkat dan pulang kerja.

    Soal tempat duduk prioritas memang masih ada penumpang yang kadang duduk di kursi tersebut, kalo ada orang yang diprioritaskan datang lalu berdiri sih tidak masalah, tapi kadang ada juga yang enggan, namanya juga manusia.

    Bukan cuma di kereta, kadang aku berobat di klinik juga ada orang yang duduk di kursi prioritas tapi enggan memberikan kursinya pada ibu hamil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa Mas Agus, mas Agus juga yaa? Huhu betul, biayanya bisa menghabiskan jatah makan sebulanku kalau pakai kendaraan pribadi😭

      Memang desak-desakan saat jam rawan itu nggak bisa dihindari ya Mas. Jadinya menjadi konsekuensi kalau memilih untuk naik transportasi umum. Menurutku sih, walaupun kita paham kondisi sekitar tapi harus tetap ingat etika agar semua pihak tidak ada yang merasa dirugikan.

      Setujuu Mas, dimana-mana masih suka terjadi konflik kepentingan terhadap golongan "prioritas"😔 jadi bingung deh cara apalagi untuk mengingatkan kalau itu tuh buat yang diprioritasin aja gitu..

      Delete
  11. Maaf ngetes td aku ga bisa komen melulu disini entah ada apa dgn chrome nya. Aku bukan anak anker sih tp klo ke jkt pasti memilih untuj naik kereta dan di jam2 lowong, itupun pasti ketemu aja sm org minim empati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngga apa-apa Mbak Anne, syukurlah sudah bisa berkomentar. Selama masih bisa memilih jam naiknya itu jam-jam kosong, itu bagus sih Mbak. Jadi setidaknya masih bisa menikmati AC nya kereta🙈

      Iya Mbak, ternyata masih banyak juga yang curi-curi padahal udah di jam lowong ya..

      Delete
  12. Wah setujuu sama semua poinnya, terutama yang budaya antre itu sih. Miris banget, padahal katanya kita menganut budaya ketimuran, tapi kok dengan mudahnya orang main serobot dengan alasan "saya punya kepentingan", padahal kan yang punya kepentingan bukan cuma situ doang :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe yang penting kita nggak seperti itu Mbak, kan ada pepatah kalau kebaikan bisa dimulai dari hal terkecil, yaitu diri kita sendiri #asik 😊

      Delete
  13. Wah aku juga pernah mengalami beberapa hal di atas, cuma bukan di KRL. Waktu itu di bis. Pemudanya gamau ngalah huhu, sedih liatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa Mbak, ternyata memang terjadi di banyak tempat nih. Semoga lain kali kalau naik transportasi umum, Mbak tetap aman-aman aja yaaa😊

      Delete
  14. memang pada akhirnya semua kembali pada diri masing-masing...sejauh mana kita pandai menempatkan diri di tempat umum, bagaimana kedisiplinan kita mengikuti peraturan yang ada dan seberapa kepedulian kita pada orang lain...yang suka bikin sebel sekarang itu urusan antre..kadang ada beberapa orang yang belum paham kalau saat ini masih pandemi..harus jaga jarak jika antre...lha kita sudah berusaha jaga jarak, eh orang lain main serobot aja di depan kita tanpa rasa malu..jadi curcol🤭🤭🤭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setujuu Mbak Nining, tergantung ke diri kita yaa. Walaupun orang lain suka bikin kesal, tapi jangan sampai orang lain kesal karena kita😊

      Hehehe kadang ada aja yang nggak sabaran ya Mbaak, apalagi waktu pandemi ini jadi was was juga kalau ada yang mepet-mepet😔 semoga kita aman-aman aja ya Mbaak

      Delete
  15. Jadi warga Jabotabek yang harus tiap hari riwa-riwi naik KRL harus kuat, patuh aturan dan juga rasa kemanusiaan yang tinggi..salut aku tuh..
    Salam hangat..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuul Mbak, apalagi yang kerja di ibukota yang keras itu😔 setuju juga kalau kita semua harus menumbuhkan rasa kemanusiaan ya.

      Terimakasih Mbak sudah mampir😊

      Delete
  16. aku bukan anker tapi beberapa kejadian di atas pernah aku temui di bis-bis. salah satunya, orang yang lebih tua tidak menghargai, nyolot dan tidak mau mengalah, padahal di kejadian itu orang dewasa ini yang keliru hihi jadi ya balik lagi harus saling menghormati tua ataupun muda. trimakasih reviewnya mbak, semangatt :)

    ReplyDelete
  17. Duh, beneran deh kalau jam rawan rasanya perjuangan banget untuk bisa berdiri tegak..berasa nggak Napak..beberapa kali ngalamin pulang event blogger naik komuter dari Jakarta ke Bogor..nggak sanggup kalau masih ngantor di Jakarta kayak dulu

    ReplyDelete
  18. im public transport user , i have a license but i dont have own transportation yet , how i wish i could have it before end of 2020 . I could relate theres a lot of various situations . I do agree of theres a free space if we capable to stand by our own we should give sit to others even they in opposite gender . It just kind of tolerance .

    ReplyDelete

Post a Comment

Other Posts