Skip to main content

Newest Post

Are You A Corruptor?

Apakah lo seorang koruptor? Photo by  cottonbro  from  Pexels Dari pertanyaan di atas agaknya kita langsung berpikir, "Loh saya nggak pernah pake uang orang," atau "Saya nggak mungkin jadi seperti para tikus berdasi di luar sana," dan macam-macam pikiran bersamaan dengan keterkejutan lainnya. Eits, tunggu dulu. Gue akan bocorkan hint dari konteks penulisan gue hari ini. Gue tidak akan membahas politisi-politisi yang melakukan korupsi di luar sana karena sejujurnya gue juga nggak suka membahasnya.  Gue akan membahas korupsi-korupsi kecil yang mungkin nggak kita sadari sudah mendarah daging di sekitar kita. Hal yang perlu kita pahami kemudian adalah sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Korupsi kecil ternyata juga bisa berdampak besar. Korupsi, tapi Bukan Tentang Uang Kita hidup di negara yang penuh dengan peraturan, regulasi, norma, dan adat baik tertulis maupun tidak tertulis. Sudah seharusnya masyarakat Indonesia yang hidup di atas negeri ini mematuhi

Scared to Let It Go

Yang aku tau, aku pernah punya rasa yang sama denganmu.

Kamu pernah bilang, saat kamu bertemu denganku, kakimu seakan akan berlari kecil di padang rumput yang dikelilingi oleh bermacam-macam bunga, salah satunya bunga kesukaanku, bunga Lily. Entah menuju kemana, namun kamu berlari di bawah sinar matahari yang hangat, dan rasanya kamu ingin menarikku berlari bersamamu, sehingga tidak akan pernah ada kata perpisahan di antara kita. Aku suka cara kamu menceritakannya. Melihat matamu yang berbinar dan genggaman tanganmu pada tanganku yang begitu erat, membuatku percaya bahwa kamu benar-benar merasakan cerita yang kamu ungkapkan.

Aku mencoba mengikuti langkahmu, berlarian juga di padang rumput yang sangat luas itu. Kupetik satu bunga, kemudian kau ambil bunga itu dan kau sisipkan di daun telingaku. Kau ajak aku berlarian lagi, hingga aku lupa akan duniaku sendiri karena telah kudapatkan kebahagiaan itu.

Sumber : Dok. Pribadi


Namun kaki tetaplah anggota tubuhku yang bisa nyeri, dan disitu aku jatuh terduduk. Lelah. Aku mengizinkan kakiku beristirahat lebih lama, sedangkan kamu masih berlarian dengan raut muka yang tidak pernah berubah; sangat bahagia. Aku bahagia, tetapi dari posisi dudukku saja. Entah, kemudian bahagia itu tidak sama dengan berlarian denganmu.

Saat duduk itu, kamu bisa saja berlari lebih jauh lagi, tidak terkotak di padang rumput ini saja, namun ke padang yang lain, yang lebih rimbun pohonnya, yang halus rumputnya, lebih wangi bunganya, dan lebih hangat untuk ditempati. Disana kamu bisa berhenti berlari dan menetap selamanya, karena saat kamu lelah, kamu tetap nyaman disana, tidak berpindah. Sedangkan aku, masih lelah berlari dan terduduk di padang yang berbeda denganmu.

Entahlah, aku merasa ada saatnya kamu akan pergi, dan banyak kemungkinan untuk kamu tidak kembali. Belum jelas alasannya, hanya ketakutan saja yang memasuki benakku selama ini. Namun ada yang bilang takut itu baik, karena saat kamu takut, kamu seharusnya tidak akan diam saja, tapi mencari cara agar apa yang kamu takuti itu cepat berlalu. Aku takut semesta berkomentar atas kita, dan perlahan memisahkan aku dan kamu, menjadi sangat-sangat jauh.

Aku takut untuk melepasmu. Karena aku juga merasakan apa yang kamu rasakan kepadaku, bahkan bertumbuh setiap harinya.

Xoxo

Comments

Other Posts