Skip to main content

Newest Post

Are You A Corruptor?

Apakah lo seorang koruptor? Photo by  cottonbro  from  Pexels Dari pertanyaan di atas agaknya kita langsung berpikir, "Loh saya nggak pernah pake uang orang," atau "Saya nggak mungkin jadi seperti para tikus berdasi di luar sana," dan macam-macam pikiran bersamaan dengan keterkejutan lainnya. Eits, tunggu dulu. Gue akan bocorkan hint dari konteks penulisan gue hari ini. Gue tidak akan membahas politisi-politisi yang melakukan korupsi di luar sana karena sejujurnya gue juga nggak suka membahasnya.  Gue akan membahas korupsi-korupsi kecil yang mungkin nggak kita sadari sudah mendarah daging di sekitar kita. Hal yang perlu kita pahami kemudian adalah sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Korupsi kecil ternyata juga bisa berdampak besar. Korupsi, tapi Bukan Tentang Uang Kita hidup di negara yang penuh dengan peraturan, regulasi, norma, dan adat baik tertulis maupun tidak tertulis. Sudah seharusnya masyarakat Indonesia yang hidup di atas negeri ini mematuhi

Rose

Waktu aku sadar bahwa aku diterima lagi di bumi ini pada suatu pagi,
saat itu juga kucari peluang apa yang dapat kutekuni di hari itu,
berharap ada yang bisa kuselesaikan.
Kulengkungkan bibirku,
kemudian kutuju kebun kecil kita.

• • •
Pagi ini adalah giliranmu menanam bunga mawar di sudut-sudut kebun, dan aku biasanya hanya menyirami tumbuhan gantung. Setelah basah berkebun, kita berlarian ke dapur untuk menyiapkan telur mata sapi dan sosis untuk berdua, dilengkapi dengan susu; rasa vanila dan coklat, untuk menghangatkan tubuh kita. Saat kita sadar dapur sudah mulai berantakan, kamu mengambil sapu dan bernyanyi seperti penyanyi terhandal yang pernah ada di depanku. Aku terpingkal, sampai membuat perutku sakit karena lelah tertawa. Aku akan mengejarmu keliling rumah untuk mengusap wajahmu dengan lap basah, dan berujung pada kubangan air di garasi bekas hujan semalam.

Siangnya, aku memilih film kesukaanku yang telah kuputar kurang lebih delapan kali minggu ini. Kau duduk di sampingku, dan tanganmu penuh dengan kardus berisi cemilan yang dibeli di warung sebelah rumah--bukan popcorn. Kita mengikuti setiap kata yang terucap oleh para aktor di film itu dan saling menebak apa yang terjadi setelahnya. Lucunya, aku tidak bosan menontonnya.
Hal yang lebih lucu lagi adalah ketika kamu tidak pernah mengeluh untuk menemaniku menonton film ini.
Pada siang itu, film membawaku berujung di bunga tidurku. Saat kuterbangun, aku sudah di kamar, dan kamu tidak ada di rumah.

"Putri tidurku sudah bangun! Aku keluar dulu, jangan kangen."
Kubaca catatan kecil itu di kulkasku. Aku tersenyum. Ya, kutunggu kau pulang. Kubersihkan diriku dan duduk menghadap tungku api.

Jam 9 malam. Aku masih menunggu dia pulang. Hujan mulai turun, makin dan makin deras. Aku baru sadar, ada sesuatu disana. Sesuatu yang... seharusnya tidak terjadi.

• • •

Bunga Mawar
Sumber : Dok. Pribadi

Bunga mawar itu sekarang telah merekah.
Ada merah, putih, dan merah muda,
tepat seperti apa yang kita pilih waktu itu.
Sayangnya kamu tidak bisa menyaksikannya.
Kamu hilang di tengah badai,
dan kutemukan kamu.
Tetapi, aku tidak benar-benar menemukanmu.
Kamu sudah pergi.

Comments

Other Posts