Newest Post

Are You A Corruptor?

Apakah lo seorang koruptor?

corruption
Photo by cottonbro from Pexels

Dari pertanyaan di atas agaknya kita langsung berpikir, "Loh saya nggak pernah pake uang orang," atau "Saya nggak mungkin jadi seperti para tikus berdasi di luar sana," dan macam-macam pikiran bersamaan dengan keterkejutan lainnya.

Eits, tunggu dulu. Gue akan bocorkan hint dari konteks penulisan gue hari ini. Gue tidak akan membahas politisi-politisi yang melakukan korupsi di luar sana karena sejujurnya gue juga nggak suka membahasnya. 

Gue akan membahas korupsi-korupsi kecil yang mungkin nggak kita sadari sudah mendarah daging di sekitar kita. Hal yang perlu kita pahami kemudian adalah sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Korupsi kecil ternyata juga bisa berdampak besar.

Korupsi, tapi Bukan Tentang Uang

Kita hidup di negara yang penuh dengan peraturan, regulasi, norma, dan adat baik tertulis maupun tidak tertulis. Sudah seharusnya masyarakat Indonesia yang hidup di atas negeri ini mematuhi semua hal itu. Peraturan yang ada pun seharusnya tidak boleh merugikan orang-orang yang menjalankannya. Jika tidak dipatuhi, maka masyarakat akan dikenakan denda.

Selain peraturan yang ada, masyarakat Indonesia juga dikelilingi oleh pengaplikasian budaya turun temurun dari para pendahulunya. Harusnya sih, seperti itu. Budaya itu nantinya akan mempengaruhi etika yang melekat di aktivitas masyarakat sehari-hari. 

Contoh etika yang dipengaruhi oleh budaya yang gue maksud adalah budaya jujur, menghargai orang lain, tidak mengambil hak orang lain, dan meminta maaf jika melakukan kesalahan.


Ethics
Photo by fauxels from Pexels

Namun seiring dengan perkembangan jaman, gue juga ngga bisa bilang bahwa etika itu masih kental di antara masyarakat Indonesia dan bisa dibuktikan dengan adanya beberapa situasi di bawah ini.

  1. Lagi ngantri di pom bensin, tiba-tiba diserobot sama mobil Toyota Alphard atau Mercedes Benz. Konon yang di dalam mobil itu adalah Direktur Utama salah satu perusahaan multinasional terbesar di Indonesia. Petugasnya takut nyuruh mobilnya ngantri, soalnya takut dipecat.
  2. Lagi buru-buru karena hampir telat ke kantor, alhasil ngebut di jalan. Saat mau belok kiri, jalanan di depan kita ditutupin sama kendaraan lain, padahal harusnya kita bisa langsung belok kiri. Akhirnya nyetir motor lewat trotoar biar bisa lebih cepat lewatin lampu merah.
  3. Jam kerja sehari-hari itu dari jam 08.00 sampai jam 16.00. Tapi karena kerjaan lagi nggak banyak, jadi datangnya jam 09.00 aja. Kalau pulangnya tetap jam 16.00 kok.
  4. Hari ini ada forum sama pengurus organisasi di kampus. Harusnya udah mulai dari setengah jam yang lalu, tapi karena nggak memenuhi kuota forum, jadi forumnya nggak dimulai. Kita tunggu sampai pengurus lainnya datang.

Gue pengen tau, apa yang muncul dalam benak kalian saat membaca ini? Apa kalian pernah menemukan situasi semacam itu? Boleh dong share di kolom komentar 😉.

Time corruption
Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Anyway, pernah nggak sih kita kepikiran bahwa situasi yang tadi gue sebutkan adalah bentuk dari korupsi? 

Kalau gue kutip definisi korupsi dalam KBBI, pasti yang akan gue dapatkan adalah definisi yang berhubungan dengan uang negara. Gue nggak bahas hal-hal berat tentang korupsinya si pejabat-pejabat negara, jadi korupsi yang gue gunakan disini sendiri merupakan sebuah kiasan untuk kegiatan-kegiatan yang melawan hukum dan norma setempat untuk menguntungkan diri sendiri, karena itulah inti dari kegiatan korupsi.

Contoh situasi yang gue sebutkan itu adalah bagian dari korupsi hak orang lain dan waktu. Karena sudah menjadi kebiasaan bagi banyak orang, hal tersebut udah nggak tabu lagi untuk dilakukan.

Padahal sebenarnya hal itu sangat merugikan.

Kalau gue sebutkan akibat dari 'penyimpangan' tersebut disini, wah, pasti panjang banget. You mention it, guys. Tapi intinya, banyak pihak yang dirugikan jika situasi kayak gitu kita halalkan dan bahkan mungkin bisa aja kita nggak sadar udah ngelakuin hal-hal yang mirip seperti situasi yang gue sebutkan di atas.

Semua Dimulai dari Hal Kecil

Awalnya, gue memikirkan bahwa memang sih, di luar sana banyak sekali koruptor-koruptor uang negara yang nggak bertanggung jawab dan merugikan rakyat. Hal ini yang selalu gue percaya sebagai penghambat kemajuan Indonesia.

Tapi kalau kita telisik lebih jauh, seseorang yang memiliki pendidikan etika yang baik akan berpikir berjuta-juta kali untuk melakukan hal sedemikian rupa. Ilmu pengetahuan itu penting, tapi alangkah lebih baik kalau diiringi dengan etika dan niat yang baik juga.

Respect
Photo by Roberto Hund from Pexels

Hal ini juga bisa diterapkan pada sudut pandang korupsi kecil yang di awal sempat gue singgung. Dari kita masih kecil, kita jarang sekali mendapatkan pelajaran khusus tentang etika dan budi pekerti. Alhasil, kita mempelajarinya sendiri dari keluarga dan lingkungan secara tidak langsung.

Gue tidak menyalahkan sebuah pendidikan yang muncul dari keluarga dan lingkungan sekitar, tetapi bahaya jadinya jika implementasinya malah tidak sesuai dengan peraturan, norma, dan etika yang baik. Tidak semua orang memiliki keluarga dan dikelilingi oleh orang-orang yang mampu mengajarkan dengan baik juga.

Namun, yang bisa gue katakan adalah: kita bisa mulai dari kesadaran diri sendiri. Gue juga ngomong sama diri sendiri, siapatau gue nggak sadar bahwa gue pernah melakukan korupsi juga. Menggunakan sesuatu yang bukan hak kita adalah mencuri, dan mencuri adalah bagian dari korupsi.

Sekali aja kita melakukan korupsi kecil, kita akan nyaman, dan kemudian malah akan terbiasa melakukannya. Huft, jangan sampe kebablasan dan merugikan orang lain ya.

Corruptor
Photo by Ksenia Chernaya from Pexels

Kita nggak akan bisa mengubah situasi-situasi yang udah gue sebutkan di atas secara sekaligus, karena dibanding berjuta-juta orang di Indonesia, kita cuma 'seuprit'. Tapi jika orang-orang yang mau berubah dikumpulkan di satu wadah yang besar, kan, jadinya banyak.

Kalau mau peradaban kita maju, harus dimulai dari memajukan diri sendiri dulu. Hehe.

Jadi, apakah lo seorang koruptor?


Comments

  1. Tersentil donk. Karena sadar tidak sadar banyak "korupsi" kecil yanh kita lakukan.. Seperti ngintip sosmed pada saat jam kerja 🤭 emang suka gatel kadang2 kalo liat notif masuk..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi aku pun.. sama sama introspeksi diri kali ya Mbak kitaaa😊

      Delete
  2. Tulisan dan pandangan yang bagus Fiya. Setuju sekali bahwa membudayakan "jujur" pada hal-hal kecil memang harus dibiasakan sejak dini dan kita harus selalu berusaha melakukan evaluasi diri bukan hanya pada hal yang besar saja.

    Banyak hal kecil yang dianggap biasa justru mencerminkan "Siapa kita". Persis seperti yang Fiya contohkan.

    Secara filosofis dan moral, pandangan ini tepat sekali mencerminkan budaya dalam masyarakat, dan bukan hanya di Indonesia saja. Banyak negara maju sekalipun yang menghadapi masalah yang sama.

    I agree 100%.

    Cuma, kalau dalam bahasa sendiri, menyamakan korupsi dengan melanggar lalu lintas dan lain-lainnya, akan menimbulkan kerancuan juga dan rentan menghadirkan tumpang tindih.

    Korupsi diterjemahkan secara luas menjadi pelanggaran terhadap hukum dan norma akan menimbulkan banyak kesimpangsiuran karena ketiadaan unsur "pembeda".

    Contohnya korupsi yang dimaknai secara luas sebagai "merampas hak orang lain" (melanggar hukum dan norma). Kata ini akan menjadi sama dengan maling, rampok, Padahal, kata-kata itu punya makna, peran, dan fungsi yang berbeda. Kata-kata itu mencerminkan arti yang berbeda dan tidak sama.

    Kalau bisa dianggap sama, maka di pengadilan semua yang merampas "hak orang lain" dan "melanggar hukum" akan disebut koruptor. Tidak ada maling, rampok, atau penipuan.

    Semua masuk satu kategori saja, koruptor.

    Padahal, tentu saja "maling" ayam dan koruptor berbeda, dalam segi perencanaan, atau juga besaran nilai kerugian, yang kerap menjadi dasar pagi sanksi atau hukuman yang diterapkan.

    Tidak perlu ada pelanggaran lalu lintas dan cukup digantikan menjadi korupsi aturan lalu lintas.

    Juga, kalau semua yang disebutkan Fiya berarti korupsi, maka bisa dikatakan mayoritas penduduk dunia (tidak termasuk bayi, balita, orang gila, dan yang tidak bisa berpikir) akan masuk kategori koruptor.

    Kok bisa? Yah karena disadari atau tidak, terpaksa atau tidak, kesalahan-kesalahan kecil akan tetap terjadi dan sering tidak bisa dihindarkan. Bukan cuma di Indonesia saja, tetapi di negara maju sekalipun.

    Kalau saya pikir, ada baiknya tetap memisahkan antara korupsi dengan pelanggaran-pelanggaran lainnya, apalagi sebuah pelanggaran norma yang tidak tertulis.

    Contohnya :

    * menyerobot antrian : pelanggaran etika/norma
    * berkendara di trotoar : pelanggaran lalu lintas

    Memakai waktu kerja untuk hal lain, bisa disebut "korupsi" waktu karena memang cukup "pas" dan membuat penyebutan menjadi efisien.

    Jadi, memaknai korupsi terlalu luas juga berbahaya karena berarti merusak tatanan berbahasa dan budaya yang sudah ada. Jadi, memang harus dimaknai secara filosofis dan tetap harus ada batasannya.

    Kalau mau dibuat ribet dan hahahaha.. sedikit ditertawakan, memaknai korupsi terlalu luas merampas "hak" banyak kata lainnya untuk tetap dipergunakan. Pada dasarnya akan menjadi "perampasan hak" berbahasa sesuai standar yang ditetapkan. "Pelanggaran" norma kaidah berbahasa juga .. 🤣🤣🤣

    Tapi, I got the point dan setuju sekali dengan pernyataan Fiya. ini cuma iseng membahas sisi lain dari kata "korupsi" saja...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, syukurlah poin yang mau aku sampaikan itu dapat ditangkap. Karena jujur, aku pun berpikir berkali-kali Mas untuk menyampaikan ini dengan kata-kata yang mudah dipahami.

      Lagi-lagi dari Mas Anton aku mendapat banyak sudut pandang baru. Apalagi dari segi filosofisnya, yang mungkin juga boleh banget dipahami sama pembaca disini juga, dan ada tatanan bahasa yang perlu diterapkan. Kalau untuk post-ku kali ini, semoga Mas Anton dan teman-teman bisa menangkap bahwa korupsi ini kubawakan sebagai "kiasan" atas hal-hal yang kurang baik di sekitar kita.

      Setuju sih bahwa kata-kata lainnya juga punya hak untuk digunakan dalam menjelaskan sesuatu ya Mas, aku akan catat itu. Masih banyak kata yang bisa menggambarkan beberapa kondisi yang ada di post-ku ini😂 terimakasih ya Mas atas insight-nya!

      Delete
  3. Informasi yang sangat bermanfaat

    ReplyDelete
  4. Saya setuju banget nih kak, terkadang banyak orang yg secara sadar udah korupsi kecil-kecilan, korupsi waktu misalnya. Saya sebagai orang yg ontime sering banget kesel sama org yg ngaret dengan alasan "biasa kok di Indonesia". Padahal kan kalo bisa diubah dari diri sendiri ya kenapa nggak kan :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuul Mbak, karena sekali dibolehkan, kesalahan akan terus berlanjut dan ringan untuk dilakukan... itulah yang bikin "jam karet" itu menjadi hal yang selalu dibawa-bawa kebanyakan orang Indonesia😔

      Delete
  5. Nice writing, Kak Jez 👍🏻 aku dapat pemikiran baru mengenai korupsi. Selama ini seringnya mendengar istilah "korupsi waktu" dan ini yang paling sering terjadi semisal seperti bilang otw tapi masih tiduran di kasur karena pikirnya datang terlambat juga nggak masalah 🤧, yang kayak gini sering bikin orang lain yang nungguin jadi gondog huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih Li😊

      Awal-awal aku juga brainstorming dengan istilah "korupsi waktu" ini. Namun setelah dilihat-lihat, kok, banyak ya kondisi-kondisi yang mirip dan nggak cuma tentang waktu. Akhirnya kucoba ulas disini😁

      Itu siih bikin kesel dan bisa-bisa yang nungguin malah ngga mau datang tepat waktu lagi. Akhirnya, kalo forum, ngaret aja semuanya🤦‍♀️ karena pikirannya sama wkwkw

      Delete
  6. Wah mbak aku selama ini mikirkorupsi tentang uang, nice thought mbak. Setuju banget klo etika sekarang udah gimana ya, aku juga pernah kejadian mbak lagi antri di pom bensin tiba-tiba ada yang langsung ambil posisi didepanku padahal harusnya saya yang duluan kan. bener-benr deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa Mbak, jadi udah ngga kerasa adanya kewajiban untuk menghindari hal-hal tersebut.. Contoh yang Mbak sebutkan juga pasti bikin sebel yaa Mbak, karena mengambil hak Mbak yang harusnya duluan. Kondisi yang begini seperti sudah biasa dilakukan, padahal menyebalkan😔

      Delete
  7. Halo Kak Ibel, salam kenal ya😊 baru pertama kali main ke mari.

    Memang banyak ya hal2 remeh yang dianggap biasa, padahal sudah masuk ranah korupsi, karena merugikan orang lain. Aku juga menyadarinya dan berusaha mengurangi. Intinya, nggak pingin lah merugikan orang lain lagi. Sama halnya dengan aku yang nggak mau dirugikan juga 😁😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Kak Kartika, selamat datang di blogku yaa😁

      Wah aku setuju banget sama pendapat Mbak, nggak mau ngerugiin orang lain karena nggak mau dirugiin juga. Sebenernya konsepnya sederhana ya Mbak, tapi bisa aja membantu memperbaiki kondisi ini🤔

      Delete
  8. Wah keren nih tulisannya mbak, benar banget tanpa sadar mungkin bisa jadi kita adalah koruptor -_- . Tapi batasan-batasan mengenai "korupsi" dan kategori tindakan lain menurutku tetap perlu.

    Poin ketiga menganai korupsi waktu adalah contoh yang banyak ditemui dimasyarakat, "korupsi" ini biasanya nih banyak terjadi di dunia yang punya aturan waktu kayak perkantoran dan sekolah. Gak jarang tu ditemui kasus misalnya pegawai, guru atau siswa yg datang telat atau pulang duluan sebelum jadwal dgn berbagai alasan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, tapi aku juga setuju memang setiap pengkategorian tindakan yang salah itu perlu ada batasannya. Dari segi hukum pun setiap kejahatan ada batasannya ya.

      Contoh yang Mbak Rani sebutkan pun bener banget, kita masih kental dengan kegiatan-kegiatan tersebut, tapi kadang teguran pun kurang mampu membantu memperbaikinya😔

      Delete
  9. Makasih banyak nih , jadi renungan... Semoga kita dijauhkan sampe korupsi terkecilpun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Mbak, semoga bermanfaat juga yaa tulisannya😊

      Delete
  10. Duuh bener juga sih mbak mungkin saking masifnya korupsi di Indonesia dan mengakar di semua lini somehow kita jd ga sadar udh ikut2an korupsi meskipun skalanya keciiiill bgt. But still kalo salah ya salah. Bismilah harus bisa mengubah mindset dan jadi agent of change ya. Mulai dari diri sendri insyaallah akan menular ke yg lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang bahaya malah ketika kita nggak sadar ya, Mbak. Bener banget, kita harus ubah mindset agar lebih baik dan jadi agent of change yang membawa perubahan ke sektar kita💕

      Delete
  11. Aku setuju banget, korupsi bukan sekedar soal materi. Korupsi itu luas cuma skalanya aja segimana besarnya. Tapi ya yang namanya korupsi tetap korupsi, itu tetap salah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, dari bahasanya sih seperti itu sih ya Mbak Ori. Jangan sampai korupsi malah menjadi akar hidup kita yang ngga bisa diubah😁

      Delete
  12. Iya korupsi nggak hanya soal uang ya, kita juga bisa korupsi waktu seperti contohnya Ibel pegawai datang terlambat tapi pulang tetap on time.. jangan dibiasakan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi iya Mbak Dedew, masih banyak pastinya di luar sana yang seperti ini. Memang aku belum dapat data statistiknya, tapi menurutku pasti masih ada aja yang melakukannya😔

      Delete
  13. secara ga sadar pernah sih korupsi waktu, hehehe. btw ini tulisan yg bagus mba, biar kita dan orang2 juga paham etika ☺️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pun begitu Mbak.. tapi bener-bener menuntut diri supaya sadar akan apa yang dilakukan setiap saat, jadi bisa terhindar dari si korupsi ini😊

      Delete
  14. Wah mbak, jleb banget sih ini artikelnya. Korupsi2 kecil ternyata jadi keseharian. Maluuuu ... Perlu berbenah diri lagi ini 🙈

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nulisnya juga jleb loh Mbak, karena pasti aku juga nggak sempurna dan mau ngajak temen-temen biar terhindar dari yang begini-begini🤣

      Delete
  15. Menarik banget mbak Ibel tentang pembahasan "koruptor" ini hehe... bener banget kita memang masih dikelilingi dengan hal-hal kecil yang tidak sesuai dengan norma dan etika hidup bersama..
    Hal-hal yang ditulis mbak Ibel itu sering banget ada di Indonesia ini memang.. mungkin memang uang masih dijadikan tingkat derajat dan di agung-agungkan
    Banyak instrospeksi diri juga setelah memabaca tulisan ini, terima kasih mbak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih Kak Aqma💕

      Begitulah, masih banyak yang memandang uang itu segala-galanya, bahkan menyingkirkan akal sehatnya juga. Semoga kita nggak melakukannya yaa dan sadar dengan apa yang kita lakukan😊

      Delete
  16. Hal hal kecil yang salah diremehkan an dimaklumi, lama lama jadi kebiasaan, dan derr... kesalahan besar terungkap baru pada binggung , Ya Mbak
    Semoga kita bisa saling mengingatkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah.. aku setuju banget Mbak, kesalahan yang biasanya dimaklumi, nantinya malah enteng untuk dilakukan ya Mbak. Ini sih yang mengganggu aku secara pribadi juga.

      Iya Mbak, semoga kita bisa saling mengingatkan💕

      Delete
  17. Tulisan kali ini, aku setuju dengan kakak. Mungkin tanpa sadar aku juga pernah melakukan hal-hal di atas. Terimakasih sudah mengingatkan kak 🤗

    Oh ya, aku juga setuju bahwa hal yang pertama harus kita edukasi adalah diri sendiri. Kita harus sadar akan pentingnya etika, kedepannya berharap orang lain bisa mengambil pelajaran yang baik dari kita.

    Nice post kak ❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Mbak Syifa, aku pun sambil mengingatkan diriku sendiri nih😊

      Betul, karena kalau kita udah sulit untuk mengubah keadaan, at least satu-satunya yang bisa kita miliki ya diri kita sendiri, jadi harus mulai dari diri ini dulu😁

      Delete
  18. Aku jadi ingat salah satu guruku pas SMA. Saat itu beliau adalah guru piket untuk guru yang tidak masuk. Jadi ketika itu pelajaran sudah selesai, tapi belum waktunya untuknya. Teman-temanku saat itu meminta untuk segera pulang, meskipun masih ada waktu 15 menit menuju jam pulang sekolah.

    Beliau hanya bilang, korupsi itu tidak hanya dalam bentuk uang. Korupsi waktu juga bisa termasuk di dalamnya. Jadi kami dilarang pulang sebelum jam pulang sekolah.

    ReplyDelete

Post a Comment

Other Posts