Skip to main content

Newest Post

Are You A Corruptor?

Apakah lo seorang koruptor? Photo by  cottonbro  from  Pexels Dari pertanyaan di atas agaknya kita langsung berpikir, "Loh saya nggak pernah pake uang orang," atau "Saya nggak mungkin jadi seperti para tikus berdasi di luar sana," dan macam-macam pikiran bersamaan dengan keterkejutan lainnya. Eits, tunggu dulu. Gue akan bocorkan hint dari konteks penulisan gue hari ini. Gue tidak akan membahas politisi-politisi yang melakukan korupsi di luar sana karena sejujurnya gue juga nggak suka membahasnya.  Gue akan membahas korupsi-korupsi kecil yang mungkin nggak kita sadari sudah mendarah daging di sekitar kita. Hal yang perlu kita pahami kemudian adalah sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Korupsi kecil ternyata juga bisa berdampak besar. Korupsi, tapi Bukan Tentang Uang Kita hidup di negara yang penuh dengan peraturan, regulasi, norma, dan adat baik tertulis maupun tidak tertulis. Sudah seharusnya masyarakat Indonesia yang hidup di atas negeri ini mematuhi

Bye Bye

Sumber : Dok. Pribadi


Entah mengapa, hari ini di bandara terasa berbeda.

Aku yang suka terburu-buru masuk ke dalam ruang tunggu sekarang memilih untuk duduk di luar lebih lama. Ada juga tiba-tiba udara di dalam tempat daftar ulang terasa sesak. Membuatku semakin mau duduk lebih lama lagi di luar. Bandara memang masih sepi, tapi itu malah membuat hati makin penat, makin tidak mau beranjak pergi. Bandara tidak pernah semengerikan ini.

Hari ini aku harus meninggalkan tanah Surabaya dan seisinya. Lebih luas lagi, aku meninggalkan Jawa Timur. Provinsi yang bahkan dulu tak pernah terpikir sedikit pun untuk kusinggahi, namun ternyata bisa membuat aku sejatuh cinta itu. Budayanya, orangnya, suasananya, semua punya arti hidup yang baik bagiku. Tidak kusangka semua itu bisa menarik hatiku untuk menetap dan berbahagia disana. Hampir 4 tahun bukanlah waktu yang sebentar bagiku untuk merubah hidup dan mempersiapkan masa depanku dan keluargaku, dan aku pernah memilih Surabaya untuk menjadi pendukungku. Banyak yang datang dan pergi, tapi pasti ada yang menetap di hati. Aku ditemukan orang-orang baik disana, yang membantuku bertahan hidup, menyelesaikan masalahku, mengurangi rasa sakit hatiku, dan memberikan warna di hari-hariku. Sungguh, aku bahkan tidak pernah membayangkan hidup disini sebelumnya. Tapi Tuhan membawaku kesini, dan aku sangat bersyukur.

Banyak dicaci, dimaki, dikhianati, tak dipercaya, itu hanya sisa dari cerita-ceritaku saja. Itu hanya bumbu yang dapat kujadikan pelajaran di masa depan saja. Seberat-beratnya permasalahanku, masih ada yang mau mendukungku, dan aku bersyukur atas itu. Jika tidak ada yang mendukung atau menemani pun, aku masih punya Tuhanku. Itu sudah lebih dari cukup. Aku yakin apapun yang harus kuhadapi itu memiliki arti.

Kemudian aku menemukan sepercik harapan kebahagiaan di masa depanku. Aku bisa kasmaran juga. Memang lucu jika dikatakan kasmaran, karena memang cinta bisa datang kapan saja. Yang aku tau, tidak banyak lawan jenis yang bisa mendapatkan hatiku. Tapi aku tidak terlalu memikirkan itu. Aku jalani, perbaiki, dan bertahan. Dari titik terendah hingga tertinggi, kami coba nikmati dan hadapi. Kami kuat. Namun sekarang, aku harus menaruh jarak di antara kami, dan ini menjadi bagian yang paling sulit. Aku cuma punya harapan bahwa masa depanku dapat terbentuk dengan baik, begitu pula dengannya. Kami punya jalan masing-masing, tapi berusaha untuk menjalaninya beriringan. Cerita ini nanti kami akan susun untuk anak-anak kelak, bahwa jarak bukan suatu hal yang berarti jika kita punya keyakinan untuk bersama.

Hal yang sama pula dengan teman-teman kesayanganku, yang sudah menjadi keluarga keduaku di tanah perantauan. Kami saling menunggu kabar baik dari masing-masing orang.

Bersyukur. Aku harus bersyukur. Aku harus kuat supaya bisa menguatkan orang-orang di sekitarku.

Terimakasih, Surabaya. Kuharap kenangan bersamamu tidak akan pernah sirna.  

Xoxo

Comments

  1. Hi mba, salam kenal. Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya 😁 apa kabar, mba? Semoga sehat selalu yaaaah 😍

    By the way, mba pindah dari Surabaya, kah? Hehehe. Semoga di tempat baru yang sekarang. Mba bisa menemukan kebahagiaan baru, dijauhkan dari rasa sakit yang ada, dan jatuh cinta secara berulang. Ditunggu kelanjutan ceritanya, mba πŸ™ˆ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi kak Eno! Terimakasih sdh berkunjung juga kesini :) Semoga hari-hari kak Eno juga lancar dan tetap bahagia yaa

      Aku kuliah di Surabaya kaak. Aku pulang ke Bekasi, rumahku. Jadi yaa sempat sedih juga ninggalin kota rantau.. aamiin aamiin kak terimakasih doanya! Banyak cerita yang sudah siap dikeluarkan hehe

      Delete
  2. Mbaa, kita sama-sama jadi alumnus anak rantau Surabaya, nih πŸ˜†πŸ˜†

    Semoga terus bahagia dengan hidup yang sekarang ya Mbaa πŸ₯°πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waahhh, kampus mana nihh? Surabaya sebelah mana?☺️

      Mbak Andhira juga yaa! Sehat sehat di tengah pandemi ini😊

      Delete
  3. Sebagai mantan anak perantauan, cerita kamu ini sangat relatable denganku pribadi (': meski awalnya nggak kepingin kuliah di tempat rantau dan tiap semester inginnya pulang terus, tapi setelah benar-benar back for good, rasanya malah nggak rela juga ya.

    Jadii, apakah Ibel pejuang LDR juga? *wink wink*

    Semoga Ibel tetap bahagia dan semangat menjalani hidup yang sekarang yaa! Aku komennya telat setahun lebih 🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaaa ada temennya akuu!☺️ Iya Kak, kadang kangen banget sama tanah rantau, walaupun semuanya sendiri tapi teteeup aja gitu asik rasanya.

      Hehe dulu iya Kak Jane, sekarang sudah berjalan sendiri-sendiriπŸ˜‚

      Semoga Kak Jane jugaaa yaaa!

      Delete

Post a Comment

Other Posts