Skip to main content

Newest Post

Are You A Corruptor?

Apakah lo seorang koruptor? Photo by  cottonbro  from  Pexels Dari pertanyaan di atas agaknya kita langsung berpikir, "Loh saya nggak pernah pake uang orang," atau "Saya nggak mungkin jadi seperti para tikus berdasi di luar sana," dan macam-macam pikiran bersamaan dengan keterkejutan lainnya. Eits, tunggu dulu. Gue akan bocorkan hint dari konteks penulisan gue hari ini. Gue tidak akan membahas politisi-politisi yang melakukan korupsi di luar sana karena sejujurnya gue juga nggak suka membahasnya.  Gue akan membahas korupsi-korupsi kecil yang mungkin nggak kita sadari sudah mendarah daging di sekitar kita. Hal yang perlu kita pahami kemudian adalah sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Korupsi kecil ternyata juga bisa berdampak besar. Korupsi, tapi Bukan Tentang Uang Kita hidup di negara yang penuh dengan peraturan, regulasi, norma, dan adat baik tertulis maupun tidak tertulis. Sudah seharusnya masyarakat Indonesia yang hidup di atas negeri ini mematuhi

Healthy Mind, Good Life

Ketenangan Jiwa
Sumber : Dok. Pribadi

I got something on my mind that I wasn't actually sure if it was me or else, or who?


Gue merasa akhir-akhir ini banyak orang yang sering berprasangka menyimpang dari yang aslinya terhadap orang lain yang bahkan mereka ngga deket, atau lebih parah lagi ngga kenal. Banyak orang, entah temen deket gue, temen jauh, temen bohongan, temen beneran, atau yang lain, suka berpikiran bahwa menunjukkan kebahagiaan di keseharian kita itu adalah hal yang negatif. Jangan jauh-jauh dari kebahagiaan deh, dari hal yang biasa aja bisa jadi dipikir negatif. Mau tau contohnya?

Kasus pertama. Ketika ada orang yang feeds instagramnya dipenuhi oleh foto-foto liburan, atau di tempat yang berganti-ganti, begitu juga dengan stories nya yang isinya sering banget lagi sama temen-temennya di kafe, nongkrong, atau di mall bawa belanjaan, dari apa yang gue amati, ada aja yang bilang :

"Jalan-jalan mulu sih"
"Gabut apa di kampus?"
"Orang kaya mah bebas"
"Nongkrongnya di kafe bos, elit"

Daan komentar yang lain. Tipikal haters banget sih ini. But let me show you some perspective that I try to put in my mind. Namanya nggak deket, atau lo ngga di tempat yang sama dengan orang itu, wajar sih mikir kayak gitu. Tapi wajar buat orang-orang yang emang terbiasa berpikir negatif. Kalo lebih positif aja, lo bakal bisa mikir contohnya gini, kalo dia banyak pergi liburan karena dia sering nabung buat refreshing kuliah atau kerjanya yang selalu bikin hectic. Atau, dia emang udah bela-belain ngga pernah ambil jatah bolos kuliah atau cuti kerja supaya dia bisa jalan-jalan. Bisa juga karena ngga pernah ketemu sama keluarganya, pasti dia ngeluangin waktu buat quality time, tapi dia juga mau berbagi kebahagiaan sama temen-temennya. Terus, dia emang orangnya ngga bisa berada lama-lama di suasana yang sepi dan sendirian, makanya dia ngajak temen-temennya ke kafe buat ngerjain tugas. 

Kenapa kafe? Kenapa nggak ngundang temen aja ke kos? 
Ngerjain tugas itu sebenernya butuh banget suasana yang sesuai dengan diri kita. Kalo misalkan kafe itu cocok buat dia... Kita mau apa? Men-generalisir sesuatu nampaknya udah menjadi budaya, kalo kita kayak gini ya dia palingan juga kayak gini. Kalo kita merasa diri kita butuh suasana yang sunyi buat belajar, apakah dia harus begitu juga? Kalian aja udah berbeda, kan ngga bisa disamain.

Kasus kedua. Manusia diciptakan berpasang-pasangan. Kalo kamu ngga dapet-dapet pasangan, berarti ada yang salah.....

Bercanda. Kalo misalkan ada dua sejoli yang sedang menjalin cinta kayak lagunya Galih dan Ratna yang mengikat janji, lalu mereka posting foto di instagram atau ngirim stories, persepsi-persepsi yang muncul adalah antara lain :
"Pacaran mulu"
"Kayaknya lebih penting cowo/cewenya daripada tugas"
"Oh pantes sering bolos"
"Temennya cowo/cewenya doang kali"

Wah yang kayak gini sih yang menurut gue lumayan parah. Sebagai mahasiswa, lo harus banget bisa membagi waktu dengan rata, antara kebutuhan lo dan kebutuhan orang lain. Kalo lo berani untuk bersenang-senang di hari itu, lo juga harus berani bersedih-sedih di lain hari untuk menggantikan sedih-sedih lo di hari yang senang. Lo harus tau mana saat yang tepat untuk memberi waktu lo ke orang lain dan untuk akademik lo. Tapi, karena disini konteksnya adalah pikiran-pikiran yang negatif tentang si dua sejoli ini tadi, gue akan mencoba meluruskannya.

Gue pikir mereka bisa aja udah bener-bener meluangkan waktu mereka yang padat akan tugas untuk ketemu. Mereka bener-bener memanfaatkan waktunya dengan baik berdua. Tapi sebelum ketemu, mereka udah janjian harus menyelesaikan tugas mereka, at least 50% dari total tugas. It's sweet, isn't it? Berjuang bukan hanya untuk cinta, tapi untuk masa depan berdua. Lain lagi sama orang yang update stories banyak sampe garisnya berubah jadi titik dan isinya mereka berdua doang, ya itu ngga bagus juga sih. Agak nggak enak dilihat kalo misalkan momen berdua dishare terlalu sering. Baiknya ya sewajarnya aja.

Mungkin ada yang berpikir celotehan gue di atas hanyalah positif yang dipaksakan dan ngga ada salahnya kita berpikiran negatif gitu karena ngga rugi juga. Tapi sebenernya ngga! Saat kamu berpikir negatif, kamu akan mempengaruhi mood dan diri kamu untuk membiasakan negatif. Apa-apa dipikir negatifnya dan ngga bisa ngeliat positifnya. Yang kayak gini bisa menyebar ke orang lain tanpa kita sadari. Gue bukan orang psikologi sih, tapi gue ngerti rasanya kalo udah ada orang yang negatif terus nyebar-nyebar ke-negative thinking-annya pasti bisa nular ke orang lain, sedikit atau banyak. Saat kamu membudayakan itu ke otak kamu, wah, semua hal bisa jadi ngga ada manfaatnya buat kamu sekalipun hal tersebut bernilai banget sebenernya. Rugi di waktu dan tenaga deh.

Tulisan gue ini juga bukan positif yang dipaksakan. Gue melatih diri untuk selalu melihat banyak perspektif, siapatau wawasan gue bisa nambah. Ya emang gue akui gue masih sering negative thinking tentang beberapa hal karena belajar dari pengalaman yang tidak menyenangkan, tapi at least gue selalu mencoba mengajak teman-teman gue berpikir positif. Yah namanya manusia, banyak salah, makanya harus terus belajar.

Udah ah. Selamat malam!

Xoxo

Comments

Other Posts