Skip to main content

Newest Post

Are You A Corruptor?

Apakah lo seorang koruptor? Photo by  cottonbro  from  Pexels Dari pertanyaan di atas agaknya kita langsung berpikir, "Loh saya nggak pernah pake uang orang," atau "Saya nggak mungkin jadi seperti para tikus berdasi di luar sana," dan macam-macam pikiran bersamaan dengan keterkejutan lainnya. Eits, tunggu dulu. Gue akan bocorkan hint dari konteks penulisan gue hari ini. Gue tidak akan membahas politisi-politisi yang melakukan korupsi di luar sana karena sejujurnya gue juga nggak suka membahasnya.  Gue akan membahas korupsi-korupsi kecil yang mungkin nggak kita sadari sudah mendarah daging di sekitar kita. Hal yang perlu kita pahami kemudian adalah sesuatu yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Korupsi kecil ternyata juga bisa berdampak besar. Korupsi, tapi Bukan Tentang Uang Kita hidup di negara yang penuh dengan peraturan, regulasi, norma, dan adat baik tertulis maupun tidak tertulis. Sudah seharusnya masyarakat Indonesia yang hidup di atas negeri ini mematuhi

Heart Graveyard

Setiap hari, aku mencoba mendatangi pemakaman hatiku sendiri.
Sendiri, kutata rapi setiap liang agar terisi penuh dengan memori.
Tidak semua liang kututupi dengan tanah.
Ada beberapa yang kubiarkan terbuka,
sehingga bau wanginya menyebar ke setiap liangnya.
Ada beberapa blok,
ialah blok kenangan indah dan kenangan buruk.
Barisan terdepan yang berhadapan adalah yang paling berarti di hidupku.

Aku tak pernah melewati tengah-tengah dua blok kenangan tersebut berhadapan.
Aku akan pergi ke salah satunya, jika hanya memang ingin meletakkan memori.
Namun dasarnya nekat, aku ke tengah kemarin.
Kutengok kananku, liang yang berisi tentangmu,
tentang semua hal yang pernah kita lakukan berdua,
atau saat kau membahagiakanku,
membuatku tersenyum dan memerahkan pipiku.
Betapa bersyukur aku menggali liang itu dulu,
dan mengizinkanmu masuk kesitu.

Tapi aku tengok ke kiri, liang itu berhadapan tepat dengan liang yang benar-benar tidak aku inginkan,
ialah berisi saat kamu pergi,
tak peduli,
tak memilihku lagi,
dan di sebelahnya kudapati liang yang berisi tentang aku,
yang meninggalkanmu,
tidak percaya denganmu,
dan menginginkanmu kembali.
Seketika air mataku turun.
Sebegitu besarnya arti kamu bagi dunia ini.
Kemudian aku tengok ke kananku lagi, ke tepat depan liang itu,
dan kudapati memoriku tentang kamu,
yang mengharapkan aku kembali,
yang tidak pernah mau aku pergi,
yang butuh hadirku,
yang menggoreskan namaku dihatimu,
dan menyayangiku.
Bukannya senyum, tangisku malah menjadi-jadi.
Kugali liang kecil di tengah-tengah kedua liang kenangan buruk.
Kuambil tanah banyak banyak untuk mengubur memori itu.
Sekarang, pemakamanku ketambahan satu liang yang berisi tentang penyesalanku meninggalkanmu.

Xoxo

Comments

Other Posts